Home / Nasional / FAO Juni 2026: Indonesia Jadi Produsen Beras Terbesar ASEAN, Nomor 4 Dunia

FAO Juni 2026: Indonesia Jadi Produsen Beras Terbesar ASEAN, Nomor 4 Dunia

FAO Juni 2026: Indonesia Produsen Beras Terbesar ASEAN, Peringkat Keempat Dunia

KKSSNews.com – Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras terbesar di Asia Tenggara dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026. Secara global, Indonesia berada di posisi keempat produsen beras terbesar dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh.

Capaian tersebut menjadi indikator positif bagi sektor pangan nasional di tengah berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga gangguan rantai pasok internasional.

Menteri Pertanian yang juga Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara yang diproyeksikan masih mampu meningkatkan produksi beras secara positif.

“Dari empat besar dunia tersebut, hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan mengalami perkembangan produksi beras yang positif,” ujar Amran di Jakarta.

Produksi Beras Indonesia Naik Paling Tinggi

Berdasarkan proyeksi FAO, peningkatan produksi beras Indonesia pada periode 2025/2026 dibandingkan 2024/2025 mencapai lebih dari 4 juta ton. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara negara-negara produsen utama dunia.

Sebagai perbandingan, India diproyeksikan mengalami kenaikan produksi sekitar 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, dan Bangladesh 1,1 juta ton.

Kinerja tersebut menunjukkan keberhasilan berbagai program pemerintah dalam meningkatkan produktivitas pertanian, mulai dari optimalisasi lahan, penyediaan benih unggul, hingga perbaikan distribusi pupuk.

Stok Beras Indonesia Terus Menguat

FAO juga mencatat peningkatan stok beras Indonesia yang dinilai berkontribusi terhadap penguatan cadangan beras dunia.

Dalam laporan tersebut, stok beras global pada akhir musim 2026/2027 diperkirakan mencapai 213,8 juta ton, menjadi level tertinggi kedua dalam satu dekade terakhir.

Sementara itu, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini berada di kisaran 5,2 juta ton.

“Stok kita per hari ini sekitar 5,2 juta ton dan dalam kondisi aman. Yang terpenting, sejak tahun 2025 tidak ada lagi izin impor beras medium yang diterbitkan,” kata Amran.

Ia bahkan mempersilakan masyarakat melihat langsung kondisi gudang Bulog yang tersebar di berbagai daerah untuk memastikan ketersediaan stok nasional.

Menurut Amran, kapasitas gudang Bulog hanya sekitar 3 juta ton sehingga saat ini pemerintah harus menyewa tambahan gudang untuk menampung stok beras yang melimpah.

“Kapasitas Bulog hanya 3 juta ton, sementara stok mencapai 5,2 juta ton. Artinya ada tambahan gudang sewaan sekitar 2,2 juta ton,” ujarnya.

Peluang Ekspor Semakin Terbuka

FAO memproyeksikan stok beras Indonesia dapat mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026 dan meningkat menjadi sekitar 7,8 juta ton pada periode 2026/2027.

Dengan kondisi tersebut, peluang Indonesia untuk memperluas pasar ekspor beras dinilai semakin terbuka.

Selain itu, beras juga tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi nasional dalam dua tahun terakhir.

“Beras bukan lagi penyumbang inflasi utama. Ini sudah terjadi selama dua tahun berturut-turut,” ungkap Amran.

Data menunjukkan inflasi beras terus melandai sejak 2024. Setelah sempat mencapai 3,59 persen pada Mei 2024, inflasi beras turun menjadi 0,38 persen pada Mei 2026.

Harga Petani Stabil, Produksi Terus Meningkat

Menariknya, stabilitas harga beras tidak membuat petani mengalami tekanan. FAO mencatat harga produsen yang relatif stabil justru mendorong petani untuk meningkatkan budidaya padi.

Kondisi tersebut juga terjadi di beberapa negara lain seperti Korea Selatan, Pakistan, dan Filipina.

Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks harga yang diterima petani padi pada Mei 2026 mencapai 147,97 atau tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Sementara Nilai Tukar Petani (NTP) Tanaman Pangan berada di level 113,79, menjadi capaian tertinggi sepanjang tahun 2026.

Kombinasi peningkatan produksi, stok yang kuat, harga petani yang terjaga, serta inflasi yang terkendali memperlihatkan sektor perberasan Indonesia tengah berada dalam tren positif. Capaian tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan pangan dunia yang terus berkembang.

Tagged:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *