KKSSNews.com, Jakarta – Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menyampaikan sikap tegas terhadap pernyataan akademisi Feri Amsari yang menyebut Presiden Prabowo Subianto berbohong terkait swasembada pangan.
Organisasi mahasiswa tersebut menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan pembacaan yang utuh terhadap realitas di lapangan dan berpotensi mereduksi kerja keras jutaan petani yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.
Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan PP Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Aulia Furqon, menegaskan bahwa capaian swasembada pangan bukanlah hasil kebijakan instan, melainkan proses panjang yang melibatkan kerja kolektif berbagai pihak, terutama para petani.
“Petani bekerja di tengah tekanan biaya produksi, risiko perubahan iklim, serta ketidakpastian pasar. Dalam kondisi seperti itu, negara hadir melalui berbagai kebijakan yang terus diperbaiki,” ujar Furqon dalam pernyataannya.
KAMMI: Tuduhan Tanpa Basis Data Kuat
Furqon menilai tuduhan yang menyebut kebijakan swasembada pangan sebagai kebohongan merupakan pandangan yang tidak didasarkan pada fakta lapangan.
Menurutnya, realitas pertanian jauh lebih kompleks daripada sekadar opini atau asumsi yang tidak didukung data kuat.
“Menyebut kebijakan ini sebagai kebohongan menunjukkan cara pandang yang lepas dari fakta lapangan. Petani bekerja nyata setiap hari. Itu tidak bisa dipatahkan dengan opini tanpa basis data yang kuat,” tegasnya.
Ia juga menilai kritik yang muncul seharusnya didasarkan pada pemahaman menyeluruh mengenai dinamika sektor pertanian nasional.
“Kritik seperti ini keluar tanpa memahami kondisi lapangan. Realitas pertanian tidak bisa disederhanakan hanya dari persepsi. Ada proses panjang, ada kerja keras petani, dan ada perbaikan sistem yang sedang berjalan,” lanjut Furqon.
Kebijakan Pertanian Dinilai Mulai Menunjukkan Hasil
Dalam pernyataannya, KAMMI juga menyoroti arah kebijakan pemerintah yang mulai menunjukkan dampak positif bagi sektor pertanian.
Furqon menyebut langkah yang dilakukan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berada pada jalur yang tepat dalam membenahi sistem pertanian nasional.
Menurutnya, beberapa indikator menunjukkan adanya perbaikan yang dirasakan langsung oleh petani.
“Kami melihat ada perbaikan nyata. Kesejahteraan petani mulai meningkat, terlihat dari harga beli gabah yang lebih baik dan kebijakan subsidi pupuk yang semakin terarah,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya terlihat dalam laporan administratif, tetapi juga dirasakan langsung oleh petani di lapangan.
Generasi Muda Mulai Dilibatkan di Sektor Pertanian
Selain fokus pada peningkatan produksi, KAMMI menilai pemerintah mulai mendorong pembenahan sektor pertanian yang lebih berkelanjutan.
Salah satu langkah strategis yang dinilai penting adalah mendorong keterlibatan generasi muda dalam dunia pertanian melalui inovasi dan teknologi.
Furqon menyebut sektor pertanian tidak boleh lagi dipandang sebagai sektor tradisional semata, tetapi harus berkembang menjadi sektor modern yang berbasis teknologi.
“Kepercayaan kepada generasi muda adalah langkah strategis. Pertanian harus menjadi sektor modern berbasis inovasi. Dengan teknologi, produktivitas meningkat dan daya saing ikut terangkat,” jelasnya.
Menurut KAMMI, modernisasi pertanian menjadi salah satu kunci agar Indonesia mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menciptakan ekosistem pertanian yang lebih berkelanjutan.
Swasembada Harus Berdampak ke Harga Beras
Meski menilai ada perkembangan positif, KAMMI juga menekankan bahwa capaian swasembada pangan harus benar-benar dirasakan masyarakat secara luas.
Furqon mengingatkan bahwa peningkatan produksi pada tahun pertama belum sepenuhnya diikuti dengan penurunan harga beras di tingkat konsumen.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk fokus membenahi sistem distribusi dan rantai pasok pangan.
“Tahun kedua harus menjadi fase perbaikan. Rantai pasok harus dibenahi agar distribusi lebih efisien dan harga beras bisa turun di tingkat konsumen,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan swasembada pangan tidak hanya diukur dari angka produksi, tetapi juga dari stabilitas harga di pasar.
“Swasembada harus terasa di pasar, bukan hanya di angka produksi,” tambahnya.
KAMMI Akan Tetap Kritis dan Konstruktif
KAMMI menilai bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, arah menuju swasembada pangan mulai terlihat lebih jelas.
Namun organisasi tersebut menegaskan bahwa perbaikan sistem harus terus dilakukan secara konsisten agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kami optimis jika pembenahan ini berlanjut dan fokus pada kepentingan rakyat, maka swasembada pangan di tahun kedua bukan hanya tercapai, tetapi juga berdampak pada stabilitas harga dan kesejahteraan masyarakat,” kata Furqon.
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan bahwa KAMMI akan tetap menjalankan peran sebagai organisasi mahasiswa yang kritis sekaligus konstruktif terhadap kebijakan pemerintah.
“PP KAMMI akan terus mengawal kebijakan pemerintah. Kami berpihak kepada petani dan masyarakat. Kedaulatan pangan harus diwujudkan dengan sistem yang adil, distribusi yang efisien, dan harga yang terjangkau,” pungkasnya.







