Home / News / Lebih dari Sekadar Forum Bisnis: PSBM Perkuat Fondasi Bela Negara Lewat Ekonomi dan Kearifan Lokal

Lebih dari Sekadar Forum Bisnis: PSBM Perkuat Fondasi Bela Negara Lewat Ekonomi dan Kearifan Lokal

Koordinator Keamanan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM), Kol. Adm Amiruddin Laupe

KKSSNews.com — Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) bukan hanya sekadar ajang tahunan untuk memperkuat jejaring bisnis dan silaturahmi antartokoh.

Lebih dari itu, forum ini memiliki dimensi strategis sebagai instrumen bela negara di era modern, di mana kekuatan ekonomi dan ketahanan budaya menjadi pilar utama kedaulatan bangsa.

Koordinator Keamanan PSBM, Amiruddin Laupe, menegaskan bahwa kontribusi para saudagar Bugis Makassar memiliki pengaruh nyata dalam memperkuat ketahanan nasional.

Menurutnya, bela negara saat ini telah bertransformasi melampaui batas militer fisik.

Bela Negara Versi Modern: Bukan Hanya Soal Senjata

Amiruddin, yang juga merupakan pejabat di lingkungan Kementerian Pertahanan, menjelaskan bahwa konsep bela negara di era kekinian mencakup upaya non-fisik yang sangat krusial.

Penguatan identitas bangsa melalui pelestarian budaya dan kearifan lokal adalah bentuk pertahanan diri terhadap gempuran globalisasi.

“Konsep bela negara saat ini tidak lagi terbatas pada kekuatan militer. Pelestarian budaya adalah benteng utama dalam menjaga jati diri bangsa. Melalui PSBM, kita memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat yang menjadi fondasi negara,” ujar Amiruddin.

Ia menilai pendekatan ini sangat relevan mengingat tantangan global saat ini bersifat multidimensi, mulai dari aspek sosial, budaya, hingga ancaman krisis identitas.

Empat Pilar Bela Negara Berbasis Kearifan Lokal

Dalam perspektif keamanan nasional, Amiruddin memaparkan sejumlah langkah konkret bagaimana nilai-nilai Bugis Makassar diimplementasikan dalam strategi bela negara:

  1. Identitas Bangsa: Melestarikan budaya sebagai simbol kebanggaan nasional.

  2. Ketahanan Sosial-Ekonomi: Membangun kemandirian masyarakat agar tidak bergantung pada pengaruh asing.

  3. Edukasi Generasi Muda: Menanamkan nilai luhur budaya agar generasi penerus tidak kehilangan arah.

  4. Ekonomi Kreatif: Mengembangkan produk lokal berbasis budaya yang mampu bersaing secara global.

Gerakan Produk Lokal: Sutera hingga Songkok Recca

Implementasi nyata dari bela negara ini, menurut Amiruddin, dapat dimulai dari hal sederhana: mencintai dan menggunakan produk lokal.

Ia mencontohkan penggunaan kain sutera, tenun, hingga songkok recca bukan hanya soal gaya busana, melainkan upaya menjaga ekosistem ekonomi perajin lokal.

Selain itu, pelestarian alat musik tradisional seperti kecapi Bugis dan penguatan bahasa daerah menjadi cara efektif untuk melawan degradasi budaya di tengah arus informasi digital yang masif.

“UMKM yang mengangkat produk khas daerah tidak hanya meningkatkan ekonomi rakyat, tetapi juga menjadi garda terdepan pelestarian budaya kita,” tambahnya.

PSBM sebagai Wadah Strategis Kedaulatan

Sebagai sebuah forum kolaborasi, PSBM dinilai mampu menyatukan potensi ekonomi saudagar dengan nilai-nilai siri’ na pacce yang menjadi filosofi hidup masyarakat Bugis Makassar.

Forum ini menjadi ruang sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang berpihak pada kemandirian nasional.

“PSBM menjadi wadah untuk menyatukan potensi ekonomi lokal sekaligus mendorong kemajuan kearifan lokal. Ini sangat penting dalam memperkuat kedaulatan negara menghadapi ancaman non-militer,” tegas Amiruddin.

Menjaga Jati Diri di Tengah Dinamika Global

Secara menyeluruh, PSBM diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam membangun ketahanan nasional.

Dengan menggabungkan kekuatan modal ekonomi dan kekayaan budaya, para saudagar tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga menjalankan kewajiban bela negara dengan memastikan roda ekonomi rakyat tetap berputar dan identitas bangsa tetap terjaga.

Pendekatan berbasis kearifan lokal ini diyakini sebagai strategi yang paling berkelanjutan dalam menjaga kedaulatan serta jati diri Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *