Home / News / Harga Pangan Jelang Idul Fitri 1447 H Dinilai Lebih Stabil, Indef Ungkap Faktor Penopangnya

Harga Pangan Jelang Idul Fitri 1447 H Dinilai Lebih Stabil, Indef Ungkap Faktor Penopangnya

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pantau harga pangan di pasar, baru-baru ini.

KKSSNews.com – Dinamika harga pangan menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah dinilai menunjukkan kondisi yang lebih stabil dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebut, meskipun terdapat kenaikan pada sejumlah komoditas utama, pergerakannya masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan.

Beberapa komoditas seperti beras medium, gula, dan minyak goreng tercatat mengalami kenaikan harga menjelang puncak konsumsi masyarakat selama bulan Ramadan.

Namun demikian, kenaikan tersebut tidak menunjukkan lonjakan tajam sebagaimana yang kerap terjadi pada periode musiman sebelumnya.

Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Afaqa Hudaya, menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan bagian dari pola ekonomi musiman yang selalu terjadi setiap tahun.

“Meningkatnya permintaan selama Ramadan merupakan fenomena musiman yang wajar dalam siklus ekonomi tahunan,” ujar Afaqa dalam diskusi daring di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, faktor permintaan yang meningkat menjelang hari besar keagamaan memang selalu memberikan tekanan terhadap harga sejumlah bahan pokok.

Namun, tahun ini tekanan tersebut relatif lebih moderat karena didukung oleh kondisi pasokan yang lebih stabil, baik di dalam negeri maupun di pasar global.

Pasokan Global Mulai Stabil

Dari sisi global, Afaqa menyebut terdapat sinyal positif pada stabilisasi harga pangan dunia. Meskipun harga pangan internasional belum sepenuhnya kembali ke level normal sebelum gejolak beberapa tahun terakhir, tekanan harga mulai mereda.

Hal ini terjadi seiring dengan membaiknya produksi pertanian di berbagai negara produsen utama. Perbaikan tersebut didorong oleh kondisi cuaca yang lebih mendukung serta pemulihan rantai pasok global yang sebelumnya terganggu.

“Harga pangan global memang belum sepenuhnya pulih, namun tekanan yang sebelumnya cukup tinggi mulai mereda seiring membaiknya kondisi pasokan di berbagai negara,” jelasnya.

Indef juga mengacu pada laporan Global Economic Prospects 2026 dari Bank Dunia yang menyebutkan bahwa peningkatan produksi pertanian menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat ketersediaan pangan global saat ini.

Dengan meningkatnya produksi tersebut, tekanan terhadap harga internasional menjadi lebih terkendali. Kondisi ini turut membantu negara-negara importir, termasuk Indonesia, dalam menjaga stabilitas harga pangan domestik.

Afaqa menegaskan bahwa saat ini pasar pangan global berada dalam fase stabilisasi, meskipun risiko ketahanan pangan masih tetap ada dan perlu diwaspadai.

Faktor Produksi dan Stok Jadi Penopang

Menurut Indef, pelemahan tekanan harga yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi produksi yang membaik serta ketersediaan stok yang relatif mencukupi di berbagai negara.

“Meredanya tekanan harga berlangsung dalam konteks pasokan global yang relatif memadai,” kata Afaqa.

Kondisi tersebut menjadi faktor penting yang membantu menjaga keseimbangan harga pangan di pasar domestik Indonesia menjelang periode konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Idul Fitri.

Dengan pasokan yang terjaga, lonjakan harga yang biasanya terjadi pada periode permintaan tinggi dapat ditekan lebih efektif melalui kebijakan distribusi dan pengelolaan stok.

Tantangan Energi Global Masih Menjadi Risiko

Selain sektor pangan, Indef juga menyoroti perkembangan pasar energi global yang masih dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Situasi ini berpotensi menciptakan volatilitas pada harga minyak dunia.

Meski demikian, Afaqa menilai kondisi tersebut juga menjadi pengingat pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi.

Selama satu dekade terakhir, neraca perdagangan migas Indonesia masih menunjukkan defisit.

Pada akhir 2025, defisit migas tercatat mencapai 2,09 miliar dolar AS, yang menunjukkan bahwa kebutuhan energi nasional masih lebih tinggi dibandingkan kapasitas produksi dalam negeri.

Kondisi ini mendorong urgensi pengembangan energi alternatif serta peningkatan efisiensi energi nasional agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap.

“Program bauran energi seperti biodiesel yang telah berjalan menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar,” tutup Afaqa.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *