Home / News / Pompanisasi Jadi Andalan Kementan Hadapi El Nino, Tanam Padi di Sukoharjo Digenjot

Pompanisasi Jadi Andalan Kementan Hadapi El Nino, Tanam Padi di Sukoharjo Digenjot

Pompa air pertanian digunakan untuk mendukung program pompanisasi Kementan dalam mengatasi kekeringan akibat El Nino di Sukoharjo.

KKSSNews.com, Sukoharjo – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat olah lahan dan kegiatan tanam di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, sebagai langkah strategis menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino.

Salah satu upaya utama yang dilakukan adalah melalui program pompanisasi, guna memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian yang terdampak musim kering berkepanjangan.

Berdasarkan data terbaru, luas baku sawah di Sukoharjo mencapai 20.085 hektare.

Dari total tersebut, sekitar 14.573 hektare telah memasuki fase tanam atau standing crop padi.

Namun, tantangan muncul karena sekitar 6.516 hektare lahan di enam kecamatan berpotensi mengalami kekeringan, yang dapat mengganggu produktivitas pertanian jika tidak segera ditangani.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kecamatan Bulu, khususnya Desa Bulu.

Di daerah ini, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rukun Tani mengelola sekitar 152 hektare sawah yang mayoritas merupakan lahan tadah hujan.

Ketergantungan terhadap curah hujan menjadikan petani sangat rentan terhadap perubahan iklim, terutama saat musim kemarau panjang.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pompanisasi merupakan solusi cepat dan efektif untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan nasional di tengah tekanan iklim ekstrem.

“Dalam kondisi El Nino, kita tidak bisa lagi bergantung pada hujan. Air harus kita datangkan langsung ke lahan pertanian. Pompanisasi menjadi kunci agar petani tetap bisa tanam dan produksi tidak mengalami penurunan,” ujar Amran.

Langkah ini tidak hanya berfokus pada penyediaan pompa air, tetapi juga mencakup pembangunan sistem pipanisasi untuk memperluas jangkauan distribusi air.

Dengan sistem ini, air dapat dialirkan dari sumber terdekat ke lahan pertanian yang membutuhkan, sehingga mempercepat proses olah tanah dan penanaman.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Andi Nur Alam Syah, menjelaskan bahwa intervensi dilakukan secara terukur berdasarkan kebutuhan riil di lapangan.

Setiap kelompok tani dipetakan untuk mengetahui tingkat kerawanan dan kebutuhan airnya.

“Kami memastikan bantuan tepat sasaran. Fokus utama adalah mempercepat akses air melalui pompanisasi. Saat ini, pompa yang telah terpasang mampu mengairi sekitar 35 hektare lahan yang sebelumnya terancam kekeringan,” jelasnya.

Dukungan dari pemerintah pusat ini juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.

Bupati Etik Suryani menyampaikan bahwa bantuan pompa air sangat membantu petani dalam menjaga keberlanjutan produksi di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.

“Bantuan ini sangat berarti bagi petani kami. Dengan adanya pompa air, sawah yang sebelumnya kering kini bisa kembali digarap. Ini memberikan harapan bagi petani untuk tetap panen meski menghadapi musim kemarau,” ungkapnya.

Program pompanisasi ini menjadi bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim yang terus didorong pemerintah.

Selain menjaga produktivitas, langkah ini juga bertujuan mempertahankan stabilitas pasokan beras nasional, yang menjadi komoditas utama dalam ketahanan pangan Indonesia.

Ke depan, Kementan berkomitmen untuk memperluas cakupan pompanisasi ke daerah-daerah lain yang memiliki tingkat kerawanan kekeringan tinggi.

Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan petani diharapkan mampu memperkuat sektor pertanian dalam menghadapi dinamika iklim global.

Dengan percepatan ini, kegiatan tanam di Sukoharjo diharapkan tetap berjalan optimal.

Pompanisasi tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga fondasi penting dalam membangun sistem pertanian yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *