KKSSNews.com, Wonosobo – Kementerian Pertanian terus mendorong percepatan investasi di sektor peternakan guna memperkuat produksi susu dan daging dalam negeri.
Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, kini diproyeksikan sebagai salah satu calon sentra baru pengembangan sapi perah dan sapi pedaging nasional.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya di sektor protein hewani.
Wamentan Sudaryono: Peluang Investasi Terbuka Lebar
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan bahwa peluang investasi di subsektor peternakan saat ini sangat menjanjikan.
Menurutnya, baik usaha sapi perah maupun sapi pedaging memiliki pasar yang jelas dan stabil.
Permintaan terhadap susu dan daging terus meningkat, sehingga sektor ini dinilai minim risiko bagi para investor.
“Saya mengundang investasi di bidang peternakan karena jika Anda pelihara sapi perah, susunya pasti laku, sapi pedaging dagingnya pasti laku,” ujarnya saat membuka Kontes Sapi APPSI Piala Ketua MPR RI di Wonosobo, Jumat (25/4/2026).
Sudaryono juga mengungkapkan bahwa kebutuhan susu nasional saat ini semakin tinggi, terlebih dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar pemenuhan gizi masyarakat.
Kebutuhan Susu Nasional Masih Defisit Besar
Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, mengungkapkan bahwa produksi susu dalam negeri masih jauh dari kata cukup.
Saat ini, kemampuan produksi nasional baru mampu memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan, sementara sisanya masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Artinya, terdapat peluang pasar hingga 75 persen yang belum tergarap secara maksimal.
“Kebutuhan sapi perah masih cukup besar. Ada 75 persen pasar yang bisa dipenuhi untuk susu segar dalam negeri,” jelasnya.
Dengan meningkatnya kebutuhan akibat program MBG, Muzani menilai Wonosobo memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat produksi susu segar nasional.
Dukungan Pemerintah Daerah dan Tantangan Produksi Susu
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Lutfi, turut menyoroti kondisi produksi peternakan di wilayahnya.
Ia menyebut produksi daging di Jawa Tengah sudah mendekati 980 ribu ton dan relatif mampu menopang kebutuhan nasional.
Namun, sektor susu masih menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi.
“Yang tidak cukup adalah susu,” ujarnya.
Untuk itu, pemerintah daerah akan mendorong peningkatan populasi sapi perah serta memperkuat sistem kesehatan hewan guna mencegah penyebaran penyakit ternak.
Wonosobo Punya Potensi Besar Jadi Pusat Peternakan
Dengan kondisi geografis yang mendukung serta tradisi peternakan yang sudah berkembang, Wonosobo dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi sentra peternakan modern.
Investasi yang masuk diharapkan dapat mempercepat pengembangan infrastruktur, teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor peternakan.
Selain itu, penguatan sektor ini juga akan memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari peningkatan pendapatan peternak hingga terbukanya lapangan kerja baru.
Sinergi untuk Kurangi Ketergantungan Impor
Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia usaha, Kementerian Pertanian optimistis subsektor peternakan akan berkembang pesat dalam beberapa tahun ke depan.
Upaya ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap impor susu dan daging, sekaligus memperkuat kemandirian pangan nasional.
Dengan dorongan investasi yang masif serta dukungan kebijakan yang tepat, Wonosobo berpeluang besar menjadi ikon baru dalam industri peternakan Indonesia.







