KKSSNews.com, Jakarta – Sektor pertanian Indonesia kembali mencatatkan sejarah baru. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Nilai Tukar Petani (NTP) Februari 2026 yang meroket hingga 125,45, atau naik 1,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Angka ini merupakan rekor tertinggi dalam periode penghitungan NTP, sekaligus menjadi indikator nyata bahwa harga yang diterima petani meningkat lebih cepat dibandingkan biaya produksi dan konsumsi mereka.
Mentan Amran: Bukti Nyata Efektivitas Transformasi Pertanian
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyambut positif capaian ini.
Menurutnya, rekor NTP tersebut merupakan buah dari rangkaian kebijakan strategis, mulai dari deregulasi aturan, efisiensi anggaran, hingga percepatan transformasi pertanian modern.
“Capaian ini menjadi tonggak penting dan rekor baru bagi kita semua. Ini adalah bukti bahwa kebijakan yang kita gulirkan di lapangan mulai dirasakan langsung manfaatnya oleh petani, terutama dalam penguatan daya beli mereka,” ujar Mentan Amran.
Analisis BPS: Daya Beli Petani Alami Perbaikan Signifikan
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa kenaikan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 2,17 persen, jauh melampaui kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya sebesar 0,65 persen.
Beberapa komoditas unggulan yang menjadi motor penggerak kenaikan indeks harga ini antara lain:
-
Cabai Rawit
-
Karet
-
Kelapa Sawit
-
Bawang Merah
Hortikultura Jadi Bintang: Naik Drastis 16,68 Persen
Jika dilihat per subsektor, hampir seluruh lini mengalami pertumbuhan positif.
Subsektor Hortikultura mencatatkan lonjakan paling fantastis, yakni naik 16,68 persen dari angka 119,62 di bulan Januari menjadi 139,57 pada Februari 2026.
Berikut rincian kenaikan NTP di berbagai subsektor:
-
Hortikultura: Naik 16,68%
-
Peternakan: Naik 1,68%
-
Perikanan (Pembudidaya Ikan): Naik 1,32%
-
Tanaman Perkebunan Rakyat: Naik 0,24%
-
Nelayan: Naik 0,35%
Sementara itu, subsektor Tanaman Pangan tercatat menjadi satu-satunya yang mengalami koreksi tipis sebesar 0,88 persen karena pengaruh fluktuasi harga pasca-panen di beberapa wilayah.
Optimisme Kesejahteraan Petani Nusantara
Tren positif NTP pada awal tahun 2026 ini memperkuat optimisme pemerintah dan pelaku sektor agraria terhadap keberlanjutan kesejahteraan petani.
Dengan daya beli yang semakin kuat, diharapkan para petani memiliki modal lebih untuk meningkatkan produktivitas serta mengadopsi teknologi pertanian modern guna mendukung kedaulatan pangan nasional.
Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga rasio harga yang adil bagi petani agar momentum pemulihan ekonomi di tingkat perdesaan tetap terjaga sepanjang tahun 2026.







