KKSSNews.com, Makassar — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) untuk mempercepat hilirisasi sektor pertanian sebagai strategi utama membawa Indonesia menjadi pemain besar dalam ekonomi global.
Ajakan tersebut disampaikan dalam Sidang Dewan Pleno (SDP) HIPMI 2026 yang digelar di Hotel Four Points by Sheraton, Kota Makassar, Minggu (15/2/2026).
Forum ini menjadi momentum konsolidasi pengusaha muda dari seluruh Indonesia untuk memperkuat peran dunia usaha dalam transformasi ekonomi berbasis nilai tambah dan industrialisasi komoditas nasional.
Swasembada Pangan Jadi Fondasi Ekonomi Nasional
Dalam paparannya, Mentan Amran menegaskan bahwa satu tahun perjalanan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto difokuskan pada penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, serta percepatan deregulasi untuk mendukung investasi dan produksi nasional.
Ia mengisahkan bahwa pada awal penugasan, pemerintah menargetkan swasembada pangan dalam empat tahun.
Namun target tersebut dipercepat menjadi tiga tahun, bahkan sempat diarahkan untuk dicapai dalam satu tahun.
“Negara kita ini negara besar, penduduknya 286 juta. Kalau satu tahun hampir pasti tidak bisa tanpa dukungan kebijakan dan kerja kolektif,” ujar Amran.
Namun di tengah tantangan El Nino dan penyesuaian kebijakan, kolaborasi lintas sektor akhirnya membuahkan hasil.
Pada 7 Januari 2026, Indonesia resmi mencatat pencapaian swasembada pangan tercepat sepanjang sejarah.
Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan, termasuk HIPMI.
“Ini bukan saya. Ini kita semua. HIPMI mengambil bagian dalam pencapaian besar ini,” tegasnya.
Data menunjukkan produksi dan stok beras nasional saat ini berada pada posisi tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Sektor pertanian juga tumbuh 10,52 persen dan menjadi salah satu penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB).
Indonesia bahkan memperoleh dua penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) atas kontribusi dalam memperkuat sistem pangan global.
Hilirisasi Jadi Strategi Besar Ekonomi Baru
Memasuki fase berikutnya, pemerintah menegaskan fokus pada hilirisasi besar-besaran sektor pertanian dan perkebunan dengan dukungan anggaran mencapai Rp371 triliun dalam tiga tahun ke depan.
“Hilirisasi itu bukan pilihan, tapi keharusan. Kita punya bahan baku terbesar di dunia, tapi nilai tambahnya justru dinikmati negara lain,” kata Amran.
Ia menyoroti potensi besar komoditas unggulan Indonesia, seperti kelapa, gambir, dan CPO (Crude Palm Oil), yang selama ini belum dimaksimalkan dalam industri hilir.
Potensi Triliunan Rupiah dari Komoditas Lokal
Mentan Amran mencontohkan kelapa sebagai komoditas strategis. Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia, namun nilai ekonominya masih rendah di tingkat petani.
“Kelapa kita harganya hanya sekitar Rp1.350. Kalau diolah jadi coconut milk, coconut water, dan produk turunannya, nilainya bisa naik hingga 100 kali lipat,” ujarnya.
Menurutnya, ekspor kelapa Indonesia saat ini bernilai sekitar Rp24 triliun, namun jika hilirisasi dilakukan secara maksimal, potensinya dapat meningkat hingga Rp2.400 triliun bahkan mencapai Rp5.000 triliun.
Hal serupa juga terjadi pada komoditas gambir, di mana Indonesia menguasai sekitar 80 persen bahan baku dunia, tetapi sebagian besar proses pengolahan justru dilakukan di luar negeri.
“Ini yang harus kita ubah. Jangan sampai kita hanya jadi penyedia bahan mentah,” tegasnya.
Sementara pada sektor CPO, Indonesia menguasai sekitar 60–70 persen pasar dunia.
Dengan penguatan industri biofuel dan kebijakan substitusi impor solar, nilai tambah sektor ini dinilai bisa meningkat signifikan.
“Kalau kita kelola dengan baik, nilainya bisa naik dari Rp549 triliun menjadi Rp1.500 triliun, bahkan hingga Rp5.000 triliun,” ujarnya.
Peran Strategis Pengusaha Muda
Mentan Amran menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada keberanian generasi muda, khususnya para pengusaha HIPMI, dalam mengambil peran strategis.
“HIPMI adalah masa depan ekonomi Indonesia. Lima, sepuluh, sampai lima belas tahun ke depan, kalian yang akan menentukan arah republik ini,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Mengutip Albert Einstein, Amran menyampaikan, “Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results.”
Menurutnya, Indonesia tidak akan maju jika terus menggunakan cara lama tanpa inovasi dan keberanian berubah.
“Hari ini kita harus bertindak besar. Doa besar, mimpi besar, dan tindakan besar harus berjalan konsisten,” tambahnya.
Peluang Investasi dan Transformasi Ekonomi
Kementerian Pertanian juga membuka berbagai peluang investasi bagi pelaku usaha muda, mulai dari cetak sawah baru, pengembangan kakao seluas hampir satu juta hektare dengan dukungan Rp10 triliun, hingga pembangunan pabrik kelapa dengan nilai investasi sekitar Rp1,5 triliun per unit melalui skema kolaborasi.
Amran menegaskan bahwa Indonesia harus keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) melalui percepatan hilirisasi dan industrialisasi berbasis komoditas unggulan.
“Kalau tiga komoditas saja kita seriuskan, kelapa, gambir, dan CPO, potensi ekonominya bisa mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000 triliun. Ini bukan mimpi, ini peluang nyata,” pungkasnya.







