KKSSNews.com, Jakarta – Reformasi besar-besaran kebijakan di sektor pertanian yang dijalankan pemerintah mulai menunjukkan hasil nyata yang monumental.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 mencapai 127,84, angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Rekor ini menjadi indikator kuat meningkatnya kesejahteraan dan daya beli petani di tengah penguatan produksi pangan nasional.
Capaian tersebut membuktikan bahwa nilai yang diterima petani dari hasil produksi tumbuh lebih cepat dibandingkan pengeluaran rumah tangga maupun biaya usaha tani mereka.
🟢 Mentan Amran: Swasembada Harus Menghadirkan Kesejahteraan
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan petani merupakan komitmen utama dalam menjalankan amanat Presiden Prabowo Subianto.
“Bapak Presiden Prabowo menugaskan kepada kami agar swasembada pangan segera terwujud. Namun yang lebih penting, swasembada itu harus menghadirkan kesejahteraan bagi petani. Kalau petani sejahtera, produksi akan meningkat, masyarakat juga mendapatkan pangan dengan harga yang stabil,” ujar Mentan Amran.
Mentan menjelaskan bahwa rekor NTP ini lahir dari reformasi menyeluruh dari hulu hingga hilir, antara lain:
-
Penerbitan Perpres No. 6 Tahun 2025: Memangkas birokrasi penyaluran pupuk bersubsidi agar langsung dan tepat sasaran.
-
Penurunan HET Pupuk Bersubsidi 20%: Harga Urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800/kg, dan NPK turun dari Rp2.300 menjadi Rp1.840/kg.
-
Perlindungan Harga di Hilir: Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen sebesar Rp6.500/kg guna menjaga harga saat panen raya.
“Petani harus memperoleh keuntungan yang layak. Negara harus hadir mulai dari penyediaan pupuk, air, mekanisasi, sampai memastikan hasil panennya terserap dengan harga yang baik,” tegas Mentan Amran.
Suara Petani Daerah: Dari Bone, Boyolali, hingga Karanganyar
Dampak nyata dari kombinasi kebijakan ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha tani di berbagai wilayah Indonesia:
1. Brigade Pangan Masseddi (Bone, Sulawesi Selatan)
Ardiansyah, ketua kelompok tani penerima bantuan combine harvester dan traktor dari Kementan di Kecamatan Dua Boccoe, mengungkapkan bahwa mekanisasi berhasil menggenjot Indeks Pertanaman (IP).
“Dulu kami hanya bisa menanam satu kali dalam setahun karena keterbatasan alat dan kondisi lahan. Sekarang, dengan bantuan combine harvester, traktor, rotavator, serta dukungan pemerintah lainnya, kami bisa menanam dua sampai tiga kali (IP 200–IP 300). Produksi meningkat, biaya lebih efisien, dan tentu pendapatan petani juga ikut bertambah,” ungkap Ardiansyah.
2. Jarwanto (Boyolali, Jawa Tengah)
Petani asal Desa Manggis ini merasakan peningkatan hasil panen dan kepastian harga gabah yang menguntungkan.
“Sekarang harga gabah basah sudah bisa mencapai sekitar Rp7.500 per kilogram. Itu jauh lebih menguntungkan. Bantuan alsintan juga membuat produktivitas sawah naik dari 5–6 ton menjadi 7 ton per hektare,” kata Jarwanto.
3. Marjoko (Karanganyar, Jawa Tengah)
Ketua Gapoktan Margo Mulyo mengapresiasi kemudahan penebusan pupuk bersubsidi dan bantuan mesin rotavator.
“Kami tidak lagi khawatir harga turun saat panen karena pemerintah hadir menjaga harga. Penebusan pupuk jauh lebih mudah dan bantuan alsintan menekan biaya pengolahan lahan,” jelasnya.
Era Baru Pertanian Indonesia
Rekor NTP Juli 2026 sebesar 127,84 membuktikan bahwa pembangunan pertanian nasional kini tidak hanya fokus pada peningkatan kuantitas produksi pangan, tetapi juga berhasil mengangkat derajat serta taraf hidup jutaan keluarga petani di seluruh pelosok Tanah Air.







