KKSSNews.com, Mojokerto — Sinergi antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam memperkuat infrastruktur pengairan nasional membuahkan hasil nyata bagi para petani di Jawa Timur.
Pembangunan sumur bor dalam Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, kini menjadi tumpuan baru bagi keberlanjutan produksi pangan lokal.
Langkah strategis ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan solusi konkret untuk menekan biaya produksi petani secara drastis sekaligus memberikan jaminan ketersediaan air di tengah ancaman perubahan iklim yang tak menentu.
Solusi Konkret Mentan Amran untuk Keberlanjutan Pangan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan selalu menekankan bahwa infrastruktur air adalah kunci utama kedaulatan pangan.
Tanpa kepastian air, mustahil produktivitas dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.
“Penguatan infrastruktur air menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Sumur bor dalam ini adalah solusi nyata bagi petani untuk mengatasi keterbatasan air sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani,” tegas Mentan Amran dalam berbagai pengarahannya.
Sekretaris Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Dhani Gartina, yang meninjau lokasi pada Jumat (3/4/2026), menegaskan bahwa JIAT memberikan kepastian bagi petani agar tidak lagi khawatir menghadapi musim tanam.
“Pemerintah sudah membangun sumber air ini secara gratis. Sekarang tinggal petaninya bergerak, memanfaatkan, serta merawatnya. Jika kelembagaan petani kuat, tahun depan outletnya bisa kita tambah agar cakupannya lebih luas,” ujar Dhani.
Efisiensi Dahsyat: Dari Rp500 Ribu ke Rp70 Ribu
Dampak ekonomi dari pembangunan sumur bor dalam ini sangat dirasakan oleh masyarakat petani di Dusun Sumenggo dan Junggosari.
Kepala Dusun Sumenggo, Julianto, memaparkan perbedaan mencolok antara sistem pengairan lama dengan sumur bor dalam yang baru.
Sebelumnya, petani terpaksa menggunakan sumur bor dangkal yang mengandalkan mesin pompa berbahan bakar minyak (BBM).
Biaya operasionalnya sangat mencekik kantong petani, mencapai Rp500 ribu per hari hanya untuk urusan bahan bakar dan mobilisasi solar.
“Sekarang dengan sumur bor dalam, biaya hanya sekitar Rp70 ribu karena menggunakan energi listrik. Petani tidak perlu lagi mencari dan mengangkut solar jauh-jauh. Ini efisiensi yang luar biasa, meringankan beban kami hingga 80 persen,” jelas Julianto dengan nada penuh syukur.
Mengakhiri Penantian Panjang Selama Tiga Dekade
Bagi warga setempat, kehadiran sumur bor dalam ini bukan sekadar bantuan teknis biasa, melainkan jawaban atas doa yang telah dipanjatkan selama puluhan tahun.
Julianto mengungkapkan bahwa selama hampir 30 tahun, petani di wilayahnya kesulitan mendapatkan akses sumur bor dalam karena proses pengajuan yang dianggap rumit di masa lalu.
“Ini penantian kami selama 30 tahun. Alhamdulillah, di era Presiden dan Menteri Pertanian saat ini, prosesnya dipermudah dan akhirnya bisa terwujud. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah,” tambahnya.
Menjaga Aset untuk Masa Depan
Pemerintah berpesan agar fasilitas JIAT yang bernilai investasi besar ini dijaga dengan penuh tanggung jawab oleh Kelompok Tani (Poktan) maupun Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Kelembagaan petani diharapkan mampu mengelola manajemen pengairan dengan baik agar manfaatnya tetap terjaga hingga puluhan tahun mendatang.
Dengan biaya operasional yang rendah dan jaminan pasokan air sepanjang tahun, pembangunan sumur bor dalam JIAT di Mojokerto diharapkan menjadi pemantik bagi peningkatan Indeks Pertanaman (IP).
Target akhirnya jelas: meningkatkan produktivitas, menyejahterakan petani, dan memperkokoh benteng ketahanan pangan nasional secara mandiri.







