KKSSNews.com, Merauke — Keberhasilan Reinardus Ndiken mengelola lahan ulayat menjadi sawah produktif menjadi bukti nyata bahwa masyarakat adat mampu bertransformasi menuju pertanian modern yang berkelanjutan.
Berlokasi di Kampung Isano Mbias, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, lahan seluas 160 hektare milik Marga Ndiken kini mulai memberikan hasil nyata melalui Program Cetak Sawah Tahun 2025.
Dari Lahan Ulayat ke Panen Nyata
Pada musim panen terbaru, Reinardus telah berhasil memanen padi di lahan seluas 2 hektare, yang kemudian berlanjut hingga 5 hektare.
Capaian ini menjadi tonggak penting, karena ia merupakan pemilik hak ulayat pertama yang secara aktif mengajukan lahannya ke dalam program cetak sawah.
Langkah tersebut membuka jalan bagi masyarakat adat lainnya untuk ikut terlibat dalam transformasi sektor pertanian.
“Kita mencetak lahan untuk menambah pendapatan pemilik tanah dan masyarakat setempat. Semua saling mendukung, mulai dari dinas, kelompok tani, penyuluh hingga Babinsa,” ujar Reinardus.
Dari total 160 hektare lahan yang tersedia, kini sekitar 100 hektare telah mulai digarap oleh petani lain yang tergabung dalam dua Brigade Pangan di Distrik Tanah Miring.
Dorong Kesejahteraan Masyarakat Lokal
Bupati Yoseph Bladib Gebze menegaskan bahwa perubahan ini merupakan bagian dari arah pembangunan daerah yang selaras dengan program swasembada pangan nasional.
Ia menyebut keterlibatan masyarakat adat sebagai pemilik tanah ulayat menjadi kunci utama keberhasilan program tersebut.
“Masyarakat Merauke hari ini harus bersinergi. Dulu berburu dan meramu, sekarang mulai bercocok tanam, beternak, hingga mencetak sawah untuk meningkatkan nilai ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah daerah terus mendorong masyarakat lokal agar tidak hanya dilibatkan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pembangunan ekonomi berbasis pertanian.
Kolaborasi Jadi Kunci Keberhasilan
Dukungan terhadap program ini juga datang dari berbagai pihak, termasuk Satuan Tugas Swasembada Pangan Papua Selatan.
Oeng Anwarudin menekankan bahwa penguatan sumber daya manusia menjadi faktor utama keberlanjutan program.
“Yang harus kita utamakan adalah petaninya. Kita dorong pembentukan kelompok tani dan gabungan kelompok tani agar pendampingan lebih efektif,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari dinas teknis hingga lembaga keuangan seperti program Kredit Usaha Rakyat (KUR), guna memperkuat ekosistem pertanian di daerah.
Peran TNI dalam Pendampingan Petani
Pendampingan juga dilakukan oleh jajaran TNI. Komandan Kodim 1707/Merauke, Dili Eko Setyawan, menyatakan bahwa Babinsa siap membantu petani dalam meningkatkan kapasitas, khususnya di lahan baru hasil cetak sawah.
“Tugas kami membantu pemerintah daerah melalui pendampingan. Pengetahuan Babinsa terus kami tingkatkan agar bisa mendukung petani, terutama yang baru pertama kali mengelola sawah,” ujarnya.
Bulog Jamin Serapan Hasil Panen
Dari sisi hilir, dukungan diberikan oleh Perum Bulog melalui penyerapan hasil panen petani.
Pimpinan Cabang Bulog Merauke, Karennu, menyebut bahwa capaian penyerapan pada tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan.
“Penyerapan beras mencapai 22.200 ton dan gabah 186 ton. Ini menjadi capaian tertinggi dalam enam tahun terakhir,” ungkapnya.
Produksi Melonjak, Merauke Jadi Lumbung Pangan Timur
Data menunjukkan lonjakan signifikan di sektor pertanian Merauke.
Sepanjang 2025, luas panen mencapai 78.955 hektare atau meningkat 67,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi gabah melonjak dari 258.626 ton menjadi 426.828 ton, sementara produksi beras naik dari 124.355 ton menjadi 205.231 ton, atau tumbuh lebih dari 65 persen.
Tak hanya itu, program cetak sawah di Merauke kini telah mencapai sekitar 40.000 hektare, menjadikannya salah satu pusat pengembangan pertanian terbesar di kawasan timur Indonesia.
Transformasi Nyata Berbasis Kearifan Lokal
Keberhasilan yang ditunjukkan Reinardus Ndiken menjadi bukti bahwa program pemerintah dapat berjalan efektif ketika bersinergi dengan kearifan lokal dan partisipasi masyarakat adat.
Transformasi dari pola hidup tradisional menuju pertanian modern bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dengan dukungan infrastruktur, kelembagaan, dan kolaborasi lintas sektor, Merauke kini semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan strategis nasional.







