Home / Opini / Swasembada Beras: Fondasi Kokoh Menuju Visi Besar Indonesia Emas 2045

Swasembada Beras: Fondasi Kokoh Menuju Visi Besar Indonesia Emas 2045

Guru Besar Universitas Hasanuddin, Prof. Ir. Salengke, M.Sc., Ph.D.

KKSSNews.com – Menjelang satu dekade menuju visi besar bangsa, sektor pertanian kembali menjadi sorotan utama.

Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Salengke, menegaskan bahwa ambisi Presiden untuk mewujudkan swasembada pangan bukan sekadar target angka, melainkan pijakan krusial dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Dalam kunjungannya ke Karawang pada Kamis (23/4), Prof. Salengke menekankan bahwa ketahanan pangan adalah tulang punggung kedaulatan sebuah negara.

Tanpa kemandirian di sektor agraria, mustahil sebuah bangsa bisa bersaing di kancah global secara berkelanjutan.

Lonjakan Cadangan Beras: Sinyal Positif Ketahanan Pangan

Salah satu indikator keberhasilan yang paling menonjol adalah tren peningkatan produksi beras nasional.

Prof. Salengke menyoroti pertumbuhan signifikan pada Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang melampaui ekspektasi banyak pihak.

“Tahun lalu, cadangan beras kita berada di kisaran 4 juta ton. Saat ini, angka tersebut sudah menyentuh 5 juta ton dan diproyeksikan akan terus menanjak hingga 5,1 juta ton. Ini adalah pencapaian luar biasa yang patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya,” ungkap Prof. Salengke.

Kenaikan cadangan sebesar lebih dari 25% dalam kurun waktu singkat ini menjadi bukti bahwa strategi intensifikasi dan ekstensifikasi lahan yang dijalankan mulai membuahkan hasil nyata.

Cadangan yang melimpah tidak hanya berfungsi sebagai jaring pengaman saat krisis, tetapi juga sebagai instrumen stabilitas ekonomi nasional.

Petani: Aktor Utama di Balik Angka Produksi

Meski kebijakan pemerintah memegang peranan penting, Prof. Salengke mengingatkan bahwa pahlawan sesungguhnya adalah mereka yang berada di baris terdepan: Para Petani.

Menurutnya, teknologi dan modal tidak akan berarti tanpa semangat juang para petani di lapangan.

“Basis utama dari kesuksesan ini adalah semangat petani. Bagaimanapun juga, merekalah yang memproduksi pangan kita. Kerja keras dan dedikasi mereka adalah fondasi dari segala pencapaian yang kita lihat hari ini,” jelasnya.

Sektor pertanian saat ini sedang mengalami transisi menuju modernisasi. Namun, Prof. Salengke melihat bahwa faktor psikologis dan motivasi petani tetap menjadi variabel penentu.

Ketika petani merasa dihargai dan didukung, produktivitas secara alami akan mengikuti.

Sinergi Pemerintah dan Stabilitas Harga

Dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan pro-petani juga mendapat sorotan positif.

Prof. Salengke menilai, intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga gabah dan beras di tingkat produsen telah menciptakan ekosistem yang sehat bagi para pelaku usaha tani.

Beberapa poin kunci yang mendorong kegairahan petani antara lain:

  • Kepastian Harga: Harga yang terjaga membuat petani tidak lagi dihantui kerugian saat panen raya.

  • Bantuan Saprotan: Akses yang lebih mudah terhadap pupuk dan benih unggul.

  • Modernisasi Alsin Petani: Penggunaan alat mesin pertanian yang mempercepat proses produksi.

“Dengan adanya bantuan yang tepat sasaran dan harga yang dijaga agar tetap kompetitif, petani menjadi lebih bergairah untuk bekerja. Motivasi inilah yang menggerakkan roda produksi pangan kita,” tambah beliau.

Menatap Masa Depan: Pertanian Sebagai Penopang Ekonomi

Menutup pernyataannya, Prof. Salengke mengajak seluruh pemangku kepentingan mulai dari akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat umum untuk memberikan dukungan penuh terhadap penguatan sektor pertanian.

Tantangan perubahan iklim dan geopolitik global menuntut Indonesia untuk memiliki “benteng pangan” yang tidak tergoyahkan.

Visi Indonesia Emas 2045 menargetkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Dalam pandangan Prof. Salengke, sektor pertanian yang kokoh akan menjadi mesin penggerak utama dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat secara merata.

“Sekali lagi, sektor pertanian membutuhkan dukungan kolektif. Jika fondasi swasembada ini terus diperkuat, kita bisa optimis bahwa tahun 2045 Indonesia tidak hanya mandiri secara pangan, tetapi juga menjadi lumbung pangan dunia,” pungkasnya optimistis.


Sumber: Kementerian Pertanian (Kementan)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *