Home / News / Perkuat Pangan dari Daerah, Mentan Amran Sulaiman Restui Program Cetak Sawah dan Pengembangan Kakao Premium

Perkuat Pangan dari Daerah, Mentan Amran Sulaiman Restui Program Cetak Sawah dan Pengembangan Kakao Premium

Bupati Jayawijaya, Atenius Murip (Kiri) dan Gubernur Papua Dominggus Mandacan (kanan) bersama Menteri pertanian RI, Andi Amran Sulaiman saat menerima audiensi sejumlah kepala daerah.

KKSSNews.com, Jakarta— Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus bergerak cepat dalam merespons kebutuhan daerah untuk memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Dalam sebuah pertemuan strategis di Jakarta, Mentan Amran secara langsung memberikan lampu hijau bagi pengembangan infrastruktur pertanian dan komoditas unggulan di berbagai wilayah, mulai dari program cetak sawah di Papua Barat hingga penguatan kakao dan kopi di Sumatera Utara.

Dukungan nyata ini disampaikan Mentan Amran saat menerima audiensi sejumlah kepala daerah di Kantor Pusat Kementerian Pertanian.

Hadir dalam pertemuan tersebut Gubernur Papua Barat, Bupati Samosir, Bupati Jayawijaya, Bupati Banggai Kepulauan, Bupati Deli Serdang, Bupati Lahat, Bupati Simalungun, hingga Wakil Bupati Majene.

Transformasi Papua Barat: Cetak Sawah dan Kakao Go International

Dalam audiensi tersebut, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan memaparkan progres signifikan yang sedang berjalan di wilayahnya.

Pada tahun anggaran 2026, Papua Barat telah ditetapkan sebagai salah satu titik fokus program cetak sawah nasional guna memperluas areal tanam produktif di wilayah timur Indonesia.

“Tahun 2026 ini kami mendapatkan bantuan cetak sawah seluas 3.369 hektare yang tersebar di beberapa wilayah, antara lain Kabupaten Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, dan Teluk Bintuni,” lapor Dominggus.

Tak hanya fokus pada persawahan, Gubernur Dominggus juga mengusulkan pengembangan padi ladang seluas 3.000 hektare untuk memberdayakan masyarakat lokal, khususnya di Manokwari dan Teluk Wondama.

Sektor perkebunan juga menjadi primadona, di mana kakao asal Papua Barat dilaporkan telah memiliki reputasi tinggi di kancah global.

“Kakao kami kualitasnya premium. Walaupun produksinya masih terbatas, kami sudah mengekspor ke Prancis, Belanda, dan Belgia,” ungkapnya dengan bangga.

Merespons potensi tersebut, Mentan Amran langsung memberikan instruksi untuk menyetujui bantuan pengembangan kakao seluas 1.000 hektare demi memastikan volume produksi dapat memenuhi permintaan pasar Eropa yang kian meningkat.

Samosir Optimalkan Potensi Kopi dan Lahan Tidur

Dukungan serupa juga dirasakan oleh Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom, menyampaikan apresiasinya atas bantuan yang telah mengucur dari Kementan untuk para petani di wilayahnya.

Hingga saat ini, Samosir telah mendapatkan alokasi pengembangan kopi seluas 1.900 hektare dan kakao seluas 500 hektare.

Vandiko menegaskan bahwa Samosir masih memiliki “harta karun” berupa potensi lahan pengembangan seluas 5.000 hektare yang berbatasan dengan Kabupaten Humbang Hasundutan.

Potensi ini diharapkan dapat disulap menjadi kawasan pertanian produktif yang mampu menyokong ekonomi warga sekitar Danau Toba.

Mendengar laporan tersebut, Mentan Amran menyambut baik dan langsung mengarahkan jajaran eselon I di Kementerian Pertanian untuk melakukan survei teknis dan menindaklanjuti pengembangan lahan tersebut.

Komitmen Pusat untuk Kesejahteraan Daerah

Mentan Amran Sulaiman menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah adalah kunci utama dalam menghadapi ancaman krisis pangan global.

Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik dan komoditas unggulan yang berbeda-beda, sehingga intervensi pemerintah pun harus dilakukan secara spesifik dan tepat sasaran.

“Tugas kita adalah melayani petani dan memastikan daerah memiliki sarana yang cukup untuk berproduksi. Jika daerah kuat, maka ketahanan pangan nasional kita akan kokoh,” ujar Mentan Amran.

Ia menambahkan bahwa pemberian bantuan alat mesin pertanian (alsintan), benih unggul, hingga program cetak sawah merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan petani di pelosok negeri.

Melalui pertemuan ini, Kementan kembali menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya membangun pertanian dari pusat, tetapi juga menjemput bola dengan mendengar aspirasi langsung dari para pemimpin daerah.

Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat transformasi sektor pertanian menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh di masa depan.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *