KKSSNews.com, Jakarta– Kementerian Pertanian (Kementan) mempertegas komitmennya untuk melindungi peternak nasional di tengah derasnya dinamika perdagangan internasional.
Pemerintah menjamin kedaulatan protein hewani nasional tidak akan dikorbankan demi kepentingan pasar global yang merugikan produsen domestik.
Penegasan tersebut disampaikan dalam pertemuan koordinasi perunggasan bersama para pelaku usaha di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Instruksi Mentan: Bela Peternak, Pertahankan HET
Melalui sambungan telepon, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan instruksi tegas kepada jajarannya untuk terus mendampingi para peternak.
Baginya, keberlanjutan usaha peternak rakyat adalah harga mati bagi ketahanan pangan bangsa.
“Kita berpihak pada peternak Indonesia. Jangan biarkan peternak kita berjalan sendiri. Negara ini merdeka, dan saya mengabdi untuk rakyat. Kami akan terus memperjuangkan dan membela mereka melalui penguatan hilirisasi serta mempertahankan Harga Eceran Tertinggi (HET),” tegas Mentan Amran.
Langkah mempertahankan harga acuan (HET) dinilai sebagai instrumen vital untuk mencegah gejolak pasar yang sering kali menekan harga di tingkat produsen namun melambung di tingkat konsumen.
Stok Daging Ayam dan Telur Aman Jelang Ramadan
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, memastikan bahwa pasokan komoditas perunggasan saat ini berada dalam kondisi terkendali.
Ia memberikan jaminan bahwa ketersediaan daging ayam dan telur akan mencukupi kebutuhan masyarakat, terutama memasuki periode Ramadan 2026.
“Ketersediaan aman dan harga relatif stabil. Kami memberikan apresiasi kepada pelaku usaha yang telah menjaga ritme produksi. Saat ini, perunggasan kita sudah sangat kuat, mampu memenuhi kebutuhan domestik, bahkan sangat potensial untuk menembus pasar ekspor,” jelas Agung.
Hilirisasi: Solusi Jangka Panjang bagi Peternak Rakyat
Pemerintah tidak hanya fokus pada stabilitas harga sesaat, tetapi juga membangun ekosistem jangka panjang melalui hilirisasi sektor peternakan.
Dengan membangun industri pengolahan di dalam negeri, peternak diharapkan tidak lagi bergantung pada fluktuasi harga ayam hidup (livebird) yang rentan dipermainkan spekulan.
Langkah strategis ini mendapat dukungan penuh dari para pelaku usaha dan asosiasi perunggasan.
Koordinasi rutin antara pemerintah dan pengusaha dianggap sebagai kunci agar kebijakan perdagangan tetap sinkron dengan kepentingan peternak mandiri dan pelaku usaha domestik.
Kemandirian Protein Nasional
Kementan memastikan setiap kebijakan perdagangan luar negeri akan selalu mempertimbangkan aspek perlindungan terhadap peternak rakyat.
Dengan sinergi yang kuat, pemerintah optimis Indonesia tidak hanya mandiri dalam memenuhi kebutuhan protein hewani, tetapi juga mampu menjadi pemain utama di pasar perunggasan regional.







