KKSSNews.com — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membongkar strategi kunci di balik keberhasilan percepatan swasembada pangan nasional, yang disebut berhasil dipangkas dari target empat tahun menjadi hanya satu tahun melalui transformasi menyeluruh sektor pertanian.
Menurut Mentan Amran, capaian tersebut bukan hasil instan, melainkan buah dari langkah terukur yang dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Kenapa produksi kita tinggi? Kenapa bisa stok kita tinggi? Tidak sesederhana yang kita bayangkan,” ujarnya (15/4/2026).
Reformasi Total dari Kebijakan hingga Lapangan
Pada awal pemerintahan, sektor pertanian dihadapkan pada berbagai tantangan serius, mulai dari keterbatasan pupuk, kerusakan irigasi hingga 60 persen, hingga distribusi sarana produksi yang belum optimal.
Menjawab kondisi tersebut, pemerintah melakukan reformasi besar-besaran yang menyasar seluruh rantai produksi pertanian.
Salah satu langkah utama adalah penyederhanaan regulasi melalui penerbitan sedikitnya 16 kebijakan strategis dalam bentuk Perpres dan Inpres untuk mempercepat produksi dan distribusi pangan.
Tak hanya itu, sebanyak 145 aturan pupuk dipangkas. Mekanisme distribusi yang sebelumnya berbelit kini dipercepat langsung dari Kementerian Pertanian ke produsen hingga ke petani.
Pupuk Murah dan Mudah Diakses
Reformasi tata kelola pupuk menjadi langkah krusial. Pemerintah meningkatkan alokasi pupuk hingga 9,55 juta ton serta menurunkan harga pupuk sekitar 20 persen.
Distribusi pun dipermudah hanya dengan menggunakan KTP, sehingga petani dapat mengakses pupuk secara lebih cepat dan tepat sasaran.
“Contoh pupuk, turun 20 persen. Tidak pernah terjadi selama Republik ini merdeka,” tegasnya.
Anggaran Dialihkan ke Sektor Produktif
Langkah berikutnya adalah refocusing anggaran sebesar Rp3,8 triliun dari belanja non-prioritas ke sektor produktif seperti irigasi, benih unggul, pompanisasi, dan alat mesin pertanian.
Kebijakan ini mempercepat peningkatan produksi secara langsung di lapangan.
Intensifikasi dan Ekstensifikasi Lahan
Pemerintah juga menggenjot intensifikasi melalui penggunaan benih unggul, pemupukan tepat waktu, serta pompanisasi yang menjangkau sekitar 500 ribu hektare lahan.
Selain itu, optimalisasi lahan rawa mencapai 800 ribu hektare, sehingga total tambahan luas tanam sekitar 1,3 juta hektare.
Sementara dari sisi ekstensifikasi, program cetak sawah baru seluas 200 ribu hektare turut memperkuat basis produksi nasional.
Infrastruktur Air dan Modernisasi Pertanian
Penguatan sektor pertanian juga dilakukan melalui pembangunan dan revitalisasi 61 bendungan serta rehabilitasi jaringan irigasi.
Di sisi lain, modernisasi pertanian dipercepat melalui penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), drone, hingga teknologi presisi.
Menurut Mentan Amran, modernisasi ini mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil hingga dua kali lipat.
Reformasi Kelembagaan dan Penertiban Distribusi
Pemerintah juga melakukan pembenahan kelembagaan melalui evaluasi dan rotasi 248 pejabat serta pencabutan ribuan izin distribusi pupuk yang tidak efektif.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh program berjalan tepat sasaran.
Peran BULOG dan Stabilitas Harga
Intervensi pasar dilakukan melalui penguatan peran Perum Bulog dalam menyerap gabah petani dengan harga Rp6.500/kg melalui skema “any quality”.
Kebijakan ini menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah.
Produksi Naik, Stok Tertinggi Sepanjang Sejarah
Hasil dari berbagai strategi tersebut mulai terlihat nyata. Produksi beras nasional meningkat sekitar 4,07 juta ton atau 13,29 persen pada 2025.
Data tersebut juga selaras dengan lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization dan United States Department of Agriculture.
Cadangan beras pemerintah kini mencapai sekitar 4,8 juta ton—tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
“Dulu maksimal 2,6 juta ton. Hari ini 4,8 juta, sebentar lagi 5 juta,” ungkapnya.
Swasembada Tanpa Impor Beras Medium
Pemerintah menegaskan bahwa capaian ini diraih tanpa impor beras medium, sehingga sepenuhnya ditopang oleh produksi dalam negeri.
“Swasembada itu artinya impor maksimal 10 persen. Negara ini tidak impor beras medium. Berarti swasembada sempurna,” jelas Mentan Amran.
Fondasi Ketahanan Pangan Nasional
Selain produksi dan stok, indikator lain juga menunjukkan tren positif. Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125,35—tertinggi dalam 34 tahun terakhir—sementara pertumbuhan sektor pertanian menyentuh 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun.
Keberhasilan ini menegaskan bahwa swasembada pangan bukan sekadar klaim, melainkan hasil kerja nyata berbasis strategi terukur dan kolaborasi lintas sektor.
Pemerintah pun memastikan kondisi pangan nasional saat ini dalam posisi aman dan akan terus diperkuat sebagai fondasi ketahanan nasional.







