KKSSNews.com, Jakarta – Pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman dan stabil menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
Berdasarkan neraca pangan hingga April 2026, Indonesia tercatat telah mencapai swasembada pada sembilan komoditas strategis dengan posisi surplus produksi yang kuat untuk menjaga stabilitas pasokan nasional.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa melimpahnya stok pangan saat ini menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Ia juga mengingatkan seluruh pelaku usaha agar tidak menjual komoditas di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
“Produksi kita tinggi, stok kita banyak. Yang swasembada pangan kita sudah sembilan komoditas, yang belum ada tiga. Tapi yang tiga ini pun stoknya tetap aman. Jadi tidak boleh ada yang main-main dengan harga,” tegas Amran dalam peresmian Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak Nasional, Jumat (13/2).
9 Komoditas Pangan Surplus
Berdasarkan data neraca pangan nasional, sembilan komoditas yang telah mencapai swasembada dan surplus meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Surplus produksi ini menjadi bantalan penting dalam menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menahan gejolak harga di pasar, khususnya menjelang periode meningkatnya konsumsi masyarakat pada Ramadan dan Idulfitri.
Stok Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah
Pemerintah juga mencatat bahwa stok beras nasional saat ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah.
Cadangan mencapai sekitar 3,4 juta ton pada Februari, atau dua kali lipat lebih tinggi dibanding kondisi normal yang biasanya berada di kisaran 1–1,5 juta ton.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan cadangan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar 1,5 juta ton dengan harga maksimal Rp12.500 per kilogram sebagai instrumen pengendalian harga di pasar.
“Tidak ada alasan beras naik. Stok kita tertinggi sepanjang sejarah. Minyak goreng kita juga produsen terbesar dunia, stok pemerintah 700 ribu ton dengan harga maksimal Rp15.700. Daging ayam HAP Rp40.000, daging sapi Rp140.000. Semua harus patuh,” tegas Amran.
Produksi Padi 2026 Diprediksi Naik
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat prospek positif produksi pangan pada awal tahun 2026.
Pada periode Januari–Maret 2026, produksi padi diperkirakan mencapai 17,65 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 2,41 juta ton atau naik 15,80 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, produksi beras diproyeksikan mencapai 10,16 juta ton, meningkat sekitar 1,39 juta ton atau 15,79 persen dibanding Januari–Maret 2025.
Kenaikan ini menjadi indikator kuat bahwa pasokan pangan nasional berada dalam kondisi aman dan mencukupi.
Pengawasan Harga Diperketat
Pemerintah menegaskan bahwa pengawasan distribusi dan harga pangan akan diperkuat melalui kerja sama lintas kementerian, pemerintah daerah, serta Satuan Tugas (Satgas) Pangan.
Fokus pengawasan diarahkan pada rantai pasok di tingkat produsen, distributor, hingga industri besar.
“Kalau ada yang mencoba menaikkan harga tidak sesuai kondisi stok, pemerintah akan bertindak tegas. Yang diawasi adalah pabrik, distributor utama, dan rantai pasok di hulu,” ujar Amran.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan juga meminta pemerintah daerah untuk aktif memantau harga di pasar dan segera melaporkan jika terjadi lonjakan yang tidak wajar.
Jika ditemukan ketidaksesuaian, pemerintah akan melakukan intervensi melalui suplai dari daerah lain atau BUMN pangan.
“Kalau harga melonjak tapi stok cukup, segera laporkan. Kita bisa suplai dari daerah lain agar harga stabil,” ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Isy Karim.
Gerakan Pangan Murah Serentak
Sebagai langkah konkret menjaga stabilitas harga, pemerintah mulai melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak di seluruh Indonesia.
Program ini bertujuan memastikan masyarakat dapat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Melalui intervensi langsung di pasar, pemerintah berharap tidak hanya menjaga ketersediaan pangan, tetapi juga memastikan keterjangkauan harga bagi seluruh lapisan masyarakat.







